Mon04212014

Last update12:27:11 AM GMT

Back Seni Tari Lukisan Romantisme

Lukisan Romantisme

Romantikisme merupakan gerakan intelektual, sastra dan seni yang berkembang di Eropa dan Amerika pada akhir abad 18. Puncaknya sekitar 1800-1850. Romantikisme tidak dapat diidentifikasi semata berdasarkan gaya, teknik atau pendirian. Dalam senilukis, romantikisme biasanya disifati oleh pendekatan sangat subjektif, imajinatif dan sangat emosional. Penulis Jerman E. T. A. Hoffmann menyatakan esensi romantikisme adalah "infinite longing" (kerinduan tak terbatas). Pilihan subject matter (pokok soal) kaum romantik berupa daya tarik alam, khususnya aspek keliaran dan kemisteriusan. Selain itu juga aspek eksotik, melankolik, dan subjek melodramatik yang membangkitkan perasaan terpesona.

Romantikisme merupakan reaksi terhadap revolusi industri, juga merupakan pemberontakan terhadap norma politik dan norma sosial aristokratik zaman pencerahan. Selain itu juga merupakan reaksi terhadap rasionalisasi sains.

Gerakan romantikisme sangat kuat pada senirupa, musik dan sastra. Dampaknya juga besar pada penulisan sejarah, pendidikan dan ilmu alam. Efek gerakan ini pada politik sangat kompleks. Efek puncak romantikisme berkaitan dengan liberalisme dan radikalisme. Gerakan romantikisme juga berefek pada tumbuhnya nasionalisme.

Romantikisme pada Lukisan

Dalam senirupa, Romantikisme pertama menampakkan dirinya pada lukisan pemandangan karya pelukis Inggris, melukiskan badai dan pemandangan liar. Pelukis J.M.W. Turner dan Caspar David Friedrich melukiskan pemandangan liar di Inggris dan Jerman dengan cara Romantik. Pelukis John Constable melukiskan tradisi pemandangan Inggris untuk menegaskan status kepahlawanan.

Seniman lainnya, William Blake dan Samuel Palmer mengekspresikan hal-hal mistik. Demikian pula pelukis Jerman Philipp Otto Runge dan pelukis Norwegia Johan Christian Dahl. Kedatangan Romantikisme dalam seni Prancis terlambat karena kuatnya Neoklasikisme yang masih dipegang teguh para akademisi. Pada periode Napoleon, Romantikisme semakin populer karena digunakan untuk propaganda rezim. Generasi baru di sekolah Prancis mengembangkan gaya Romantik sendiri meskipun masih kosentrasi pada lukisan sejarah dengan pesan politik.

Theodore Gericault mengawali sukses pertamanya dengan lukisan berjudul The Charging Chasseur. Lukisan tentang sosok figur prajurit herorik. Lukisan lainya berjudul The Raft of the Medusa merupakan pencapaian terbesar lukisan dalam sejarah Romantik, lukisan tentang tenggelamnya perahu Medusa merupakan ekspresi peristiwa aktual, benar-benar terjadi pada zamannya. Lukisan itu merngekspresikan tragedi moral dalam sejarah Prancis, saat perahu karam, para penumpangnya ditinggalkan begitu saja oleh para awaknya, sehingga banyak korban meninggal.

Eugène Delacroix (1798-1863) melukiskan The Barque of Dante (1822), The Massacre at Chios (1824) dan Death of Sardanapalus (1827). Delacroix banyak menghabiskan waktu di Afrika Utara, di antara karyanya melukiskan para pejuang Arab dengan pemandangan penuh warna. Karyanya Liberty Leading the People (1830) melukiskan peristiwa revolusi Prancis. Pada lukisan itu Dewi Kemerdekaan (Liberty) memimpin rakyat Prancis melawan kekuasaan absolut monarkhi. Lukisan ini merupakan gabungan antara realitas (tentang revolusi) dengan mitologi (Dewi kemerdekaan). Lukisan ini mengingatkan kita pada lukisan Medusa yang dianggap sebagai salah satu lukisan Romantik Prancis terbaik. Kedua lukisan tersebut merefleksikan peristiwa yang sedang berlangsung pada zamannya, sehingga menaikkan citra "lukisan sejarah".

Di Prancis, lukisan kesejarahan dikenal dengan gaya Troubadour, istilah yang jarang diberlakukan di negara Eropa lainnya meskipun kecenderungan yang sama terjadi di sana. Delacroix, Ingres dan Richard Parkes Bonington semua berkarya dengan gaya ini.

Kecenderungan lainnya para pelukis menggabungkan peristiwa alam ekstrim atau kemurkaan Tuhan dengan bencana manusia. Seperti lukisan The Raft of the Medusa yang melukiskan bencana tenggelamnya perahu di tengah laut. Seniman terkemuka Inggris John Martin melukiskan figur-figur manusia tampak kecil di tengah bencana alam besar dan badai. Martin melukiskan tragedi manusia seperti tertulis dalam Kitab Suci, seperti bencana yang menghancurkan kota Sodom dan Gomorah. Karya lainnya, termasuk lukisan Death of Sardanpalus karya Delacroix menggunakan efek khusus yang mampu membangkitkan emosi. Demikian pula karya-karya Poussin dan Rubbens.

Francisco de Goya pelukis Spanyol dianggap sebagai pelukis besar Romantik. Karyanya antara lain The Clothed Maja (1803), The Third of May 1808 (1814) dan Charles IV of Spain and His Family (1800). Lukisan The Thirnd of May melukiskan pera pejuang dieksekusi. Goya sangat mahir menggunakan chiaroscuro (gelap terang pada lukisan), sehingga lukisan tampak dramatis. Wajah para pejuang menghadapi regu tembak tampak jelas pada lukisan dengan efek ini.

Di tempat lain Eropa, seniman terkemuka yang mengadopsi gaya Romantik antara lain pelukis Rusia Orest Kiprensky, Vasily Tropini dan Ivan Aivazovsky spesialis lukisan laut. Di Norwegia Hans Gude melukisan pemandangan dengan gaya romantik. Di Italia Francesco Hayes adalah seniman Romantikisme terkemuka.

Di Amerika juga berkembang senirupa Romantikisme, terutama pada karya pemandangan Amerika karya seniman dari Hudson River School. Para pelukis seperti Thomas Cole, Albert Bierstadt, Frederic Edwin Church dan sejumlah seniman lainnya sering mengekspresikan lukisan tema-tema Romantik pada karya-karyanya. Mereka kadang melukiskan reruntuhan purbakala dari dunia masa lalu, seperti karya Fredric Edwin Church berjudul Sunrise in Syria.

Karya-karyanya merefleksikan keruntuhan dan kematian. Hal ini untuk menunjukkan bahwa alam sangat berkuasa. Mereka juga berkarya sangat berbeda dibandingkan seniman Eropa dengan melukiskan keunikan dan pemandangan Amerika. Gagasan identitas Amerika pada karya seni romantiksime terefleksikan pada karya Cole yang hanya melukiskan pemandangan yang terdapat di Amerika.

 

Add comment


Security code
Refresh